Skip ke Konten

Simak Yuk, Kisah Lengkap Wakaf Pertama Rasulullah

3 Agustus 2026 oleh
Simak Yuk, Kisah Lengkap Wakaf Pertama Rasulullah
Wakaf Al Azhar, Tim Website Al-Azhar

Konsep wakaf pertama kali dikenalkan oleh Nabi Muhammad SAW selama periode awal Islam di Kota Madinah. Sejarah wakaf bermula ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabatnya untuk mendirikan masjid di Kota Madinah, yang dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Pendirian Masjid Nabawi memiliki makna penting dalam sejarah Islam. Selain sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan sosial, keagamaan, serta politik umat Islam, peristiwa ini juga menjadi contoh pertama praktik wakaf dalam sejarah umat Islam di dunia.

Penentuan Lokasi Pembangunan

Masjid Nabawi didirikan setelah Rasulullah SAW membangun Masjid Quba. Ada kisah yang istimewa sebelum beliau memutuskan lokasi pembangunan masjid di Kota Madinah ini.

Pada masa itu, sebelum dibangunnya Masjid Nabawi, Rasulullah SAW menunggangi unta dalam perjalanan menuju ke Kota Madinah. Ketika mendengar bahwa Rasulullah SAW hendak mengunjungi Madinah, maka seluruh umat muslim di kota tersebut berkumpul guna menyambut beliau.

Masyarakat Madinah satu per satu mulai menarik tali kekang pada unta Rasulullah, agar beliau berhenti, kemudian berkunjung dan tinggal di rumahnya. Rasulullah SAW pun mengucapkan sebuah kalimat:

“Jangan menarik tali kekang pada unta ini, karena ia telah menerima perintah dari Allah di mana ia akan berhenti.” Ucap Rasulullah.

Benar saja, setelah beliau mengucapkan kalimat tersebut, unta yang ditumpangi Rasulullah SAW akhirnya berhenti di depan bangunan milik dua anak yatim dari Bani Najjar, yakni Suhail dan Sahl. Bangunan tersebut rupanya merupakan tempat yang digunakan untuk menjemur kurma.

Rasulullah SAW pun akhirnya memanggil kedua anak yatim tersebut dan menawar tanah milik mereka untuk dibeli. Akan tetapi, sungguh mulia niat anak yatim tersebut karena ia berkata “Justru kami akan memberikannya kepada Anda wahai Rasulullah SAW”.

Mendengar pernyataan dari kedua anak yatim di hadapannya tersebut, tidak membuat Rasulullah SAW langsung menerima tanah pemberian mereka. Beliau akhirnya berdiskusi hingga mendapati harga yang pantas untuk menebus tanah tersebut, tentunya dengan kesepakatan.

Proses Pembangunan

Dua Belas Hari Pengerjaan

Lokasi pemberhentian unta itulah yang kemudian menjadi tempat berdirinya Masjid Nabawi. Pembangunannya hanya membutuhkan waktu 12 hari. Masjid ini awalnya dibangun dengan sangat sederhana, sebelum akhirnya berkembang menjadi salah satu bangunan paling megah seperti yang kita kenal sekarang.

Luas Masjid Nabawi Pertama Kali Dibangun

Luas awal Masjid Nabawi jauh lebih kecil dari bangunannya saat ini, dengan panjang sekitar 70 hasta dan lebar sekitar 60 hasta, atau kurang lebih 35 x 30 meter. Atapnya terbuat dari pelepah kurma, lantainya dari batu, dan masjid ini memiliki tiga pintu yang sangat sederhana. Untuk proses pembangunannya, Rasulullah SAW mempercayakannya kepada orang-orang yang sudah ahli di bidang konstruksi.

Riwayat tentang Pembangunan Masjid Nabawi

Terdapat sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada para sahabat yang ikut serta dalam pembangunan Masjid Nabawi,

“Dekatkan Al Yamami ke tanah, karena sentuhannya adalah yang terbaik di antara kalian dan pijatannya adalah yang terkuat.”

Ada pula riwayat dari Al-Yamami sendiri yang berkata, "Aku mencampurkan tanah, lalu seakan campuranku ini menakjubkan beliau." Rasulullah SAW pun bersabda, "Biarkanlah Al-Yamami Al-Hanafi dengan tanah, karena dia paling ahli urusan tanah dari kalian."

Selain Al-Yamami, ada pula sahabat Nabi bernama Ammar bin Yasir yang dikenal memiliki semangat yang luar biasa dalam ikut serta membangun Masjid Nabawi.

Renovasi

Era Rasulullah SAW

Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin bertambah dan masjid mulai terasa penuh. Rasulullah SAW pun mengambil kebijakan untuk memperluas Masjid Nabawi dengan menambahkan masing-masing 20 hasta pada panjang dan lebarnya. Biaya pembebasan tanah untuk perluasan ini ditanggung oleh Utsman bin Affan, sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.

Era Khulafaur Rasyidin

Sepeninggal Rasulullah SAW, Masjid Nabawi terus diperluas oleh para sahabat dan penerus beliau. Renovasi dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H, kemudian dilanjutkan pada masa Khalifah Utsman bin Affan yang memerintah pada tahun 29 H.

Era Dinasti Umayyah

Perbaikan berikutnya dilakukan pada zaman pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik dari Dinasti Umayyah. Gubernur Madinah al-Munawwarah saat itu, Umar bin Abdul Aziz, memerintahkan pembangunan kembali Masjid Nabawi dan menambahkan mihrab di bagian dalam masjid. Ini merupakan mihrab pertama yang digunakan pada interior masjid, berbentuk ceruk pada dinding sebagai penanda arah kiblat. Pada kesempatan yang sama, ia juga membangun empat menara dan 20 pintu masuk. Proyek ini selesai pada tahun 91 H atau 711 M.

Era Dinasti Abbasiyah

Pada masa Khalifah Al-Mahdi dari Daulah Abbasiyah, ditambahkan maqshurah di bagian shaf awal Masjid Nabawi. Maqshurah adalah ruangan di bagian depan yang digunakan untuk membawa jenazah masuk guna disalatkan.

Era Dinasti Mamluk dan Turki Usmani

Renovasi kembali dilakukan di bawah pemerintahan Sultan Ashraf Qait Bey dari Dinasti Mamluk. Pada masa ini dibangun dua kubah tepat di atas makam Rasulullah SAW beserta pagar pembatas di sekitarnya. Sultan Abdul Majid dari Turki Usmani kemudian melanjutkan dengan memperluas halaman di belakang maqshurah.

Renovasi Terbesar

Di era modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Arab Saudi memperluas masjid ini hingga mencapai luas 6.042 meter persegi pada tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd. Pada bulan Safar 1405 H atau November 1984 M, beliau meletakkan batu pertama proyek perluasan Masjid Nabawi yang tercatat sebagai yang paling signifikan dan termegah sepanjang sejarah.

Setelah tertunda satu tahun, pada Muharram 1406 H atau Oktober 1985, proyek besar ini resmi dimulai dengan menggusur bangunan hotel bertingkat, pasar, dan kompleks pertokoan di sekitarnya yang berdiri di atas lahan seluas 100 ribu meter persegi. Di atas lahan tersebut kemudian dibangun masjid baru seluas 82 ribu meter persegi yang mengitari dan menyatu dengan bangunan yang sudah ada.

Di era Khadimul Haramain Raja Abdullah, dilakukan renovasi besar yang bahkan tercatat sebagai perluasan terbesar sepanjang sejarah Masjid Nabawi. Salah satu proyek ikonik dari renovasi ini adalah payung-payung raksasa yang kini bisa dijumpai oleh para jamaah haji maupun umrah. Raja Abdullah juga menginstruksikan pemasangan tiang-tiang marmer yang tersebar di seluruh halaman masjid, berjumlah sekitar 250 buah, termasuk di enam jalur halaman bagian selatan.

Masjid Nabawi adalah wakaf Rasulullah SAW yang sangat istimewa dan dimuliakan. Beliau pun bersabda bahwa siapa pun yang beribadah di Masjid Nabawi akan mendapatkan pahala berlipat ganda hingga 1.000 kali lipat.

Wakaf, Jariyah Tak Putus

Kisah Masjid Nabawi adalah bukti nyata bagaimana satu wakaf yang dimulai dari sebidang tanah sederhana bisa terus memberikan manfaat bagi jutaan orang lintas zaman hingga hari ini. Itulah keistimewaan wakaf, pahalanya tidak ikut terkubur bersama pewakafnya, melainkan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan.

Wakaf tidak hanya memenuhi kepentingan umum, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjadi investasi pahala bagi wakif. Jadi tunggu apa lagi, ayo wakaf sekarang di Wakaf Al Azhar.

di dalam Artikel Kami
Apa Itu Wakaf Uang? Pengertian, Hukum, dan Cara Berwakaf Uang Online yang Aman
Pahami pengertian wakaf uang, dasar hukumnya, bedanya dengan wakaf melalui uang, dan cara berwakaf online yang aman dan terpercaya.