Wakaf Panel Surya Terangi Masjid Nurul Iman Aceh Tamiang
Bagi jamaah Masjid Nurul Iman di Dusun Bangun Sari, listrik padam berarti azan bisa tak sampai ke rumah-rumah warga. Listrik yang mati menjelang Subuh membuat pengeras suara masjid ikut senyap, dan jamaah yang datang pun berkurang.
"Kendala kami di masjid ini tentunya selain soal penerangan, listrik akhir-akhir ini sering padam, sampai terkadang azan kami tidak terdengar," tutur Marwan, Imam Dusun Bangun Sari.
Kondisi itu mulai berubah. Pada Selasa (6/10/2026), Kementerian Agama RI bersama Bank Indonesia dan Konsorsium NUUR+ resmi menyerahkan Program Wakaf Panel Surya kepada Masjid Nurul Iman di Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Masjid yang melayani dusun berpenduduk lebih dari 400 kepala keluarga ini kini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 7.320 Wp. Program ini lahir dari sinergi Konsorsium NUUR+ yang beranggotakan Wakaf Al Azhar, Wakaf Energi, MOSAIC, Enter Nusantara, dan Wakaf Salman.
Dananya berasal dari wakaf yang dihimpun para karyawan Bank Indonesia. Enter Nusantara bertindak sebagai mitra pelaksana yang mengawal proses instalasi hingga edukasi kepada warga.

Listrik Andal di Wilayah Rawan Bencana
Aceh Tamiang, khususnya wilayah pelosok seperti Bandar Pusaka, kerap dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang memutus jaringan listrik utama. Di saat seperti itu, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah. Masjid berubah fungsi menjadi tempat evakuasi, posko pengungsian, sekaligus pusat penyaluran bantuan bagi warga.
Ketika jaringan listrik terputus disaat darurat sering membuat warga terisolasi dan menghambat kerja-kerja kemanusiaan. Gangguan itu juga terasa dalam ibadah sehari-hari. "Saat salat pun, kalau listrik tiba-tiba mati, kekhusyukan kami terganggu karena kipas tidak menyala," kata Marwan.
Dampaknya terasa besar bagi masjid yang memiliki sekitar 200 jamaah aktif dengan beragam kegiatan, seperti pengajian. Bagi Marwan, kehadiran panel surya menjadi jawaban atas persoalan tersebut. "Dengan solar panel yang sudah dipasang ini, tentu sangat membantu kami, terutama untuk penerangan, dan listriknya lebih stabil dibanding yang selama ini kami gunakan," ujarnya.
Hemat Listrik, Manfaatnya Kembali ke Jamaah
Panel surya ini diperkirakan mampu menghasilkan energi hingga 532 kWh per bulan dan memangkas biaya listrik masjid hingga Rp768.000 per bulan. Kehadirannya juga berkontribusi mengurangi emisi karbon sebesar 478 kg. Dana yang berhasil dihemat akan dialokasikan untuk kegiatan pemakmuran masjid dan pemberdayaan jamaah.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag., menilai dampak program ini sangat besar. Menurutnya, listrik biasanya menjadi pengeluaran terbesar sebuah masjid.
"Dengan solar panel, kita berharap biaya listrik masjid jauh lebih rendah, bahkan mungkin nol. Dana yang awalnya untuk listrik bisa digunakan untuk keperluan lain, terutama pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar masjid," ujarnya.
Harapan serupa datang dari jamaah yang berharap listrik yang lebih stabil membuat ibadah di masjid berjalan tanpa gangguan.

Ekoteologi yang Diwujudkan Lewat Wakaf
Abu Rokhmad menyebut program ini sebagai bukti bahwa ekoteologi bisa diwujudkan dalam aksi nyata. "Kementerian Agama terus berupaya mendorong lahirnya masjid-masjid ramah lingkungan yang mandiri energi, tangguh bencana, dan memberi kemaslahatan yang luas bagi masyarakat," tegasnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), terdapat 710.441 masjid dan musala yang terdaftar secara nasional. Kementerian Agama menargetkan 44 persen masjid dan 28 persen musala di antaranya bertransformasi menjadi eco-masjid yang menerapkan prinsip ramah lingkungan secara berkelanjutan. Masjid juga didorong menjadi simpul mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Menurut Abu Rokhmad, Kementerian Agama selama ini terus mengampanyekan dan mengedukasi masyarakat agar gerakan filantropi Islam tumbuh dengan baik, dan kini hasilnya mulai terlihat. "Saya kira ini satu gerakan kecil yang luar biasa, yang diinisiasi oleh rakyat Indonesia, oleh umat Islam, juga oleh lembaga amil zakat dan wakaf seperti Al Azhar," ujarnya.

Investasi Akhirat Insan Bank Indonesia
Bagi para pegawai Bank Indonesia, wakaf panel surya ini adalah bagian dari ikhtiar mencari bekal akhirat. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yudo Herlambang, bercerita bahwa gerakan ini berawal dari pesan Perry Warjiyo saat masih menjabat Gubernur Bank Indonesia.
"Beliau mengajarkan kami agar tidak hanya bergelut pada pekerjaan utama, seperti pengendalian inflasi, pengedaran uang, dan sebagainya. Kita juga perlu mencari investasi akhirat," kata Yudo.
Pesan itu kemudian diwujudkan dalam program wakaf pegawai Bank Indonesia yang mencakup beberapa bidang, di antaranya air bersih, lingkungan, dan panel surya. Aceh Tamiang dipilih karena menjadi salah satu daerah dengan dampak bencana terbesar di wilayah kerja Bank Indonesia Lhokseumawe.
Dalam menyalurkan wakaf tersebut, Bank Indonesia menggandeng Kementerian Agama dan para mitra nazhir. "Kami dari Bank Indonesia tidak bisa sendiri, terutama di daerah-daerah yang agak terpencil. Wakaf Al Azhar dan rekan-rekan lain menjadi jembatan kami untuk menyalurkan dana wakaf kami sebagai insan Bank Indonesia kepada pihak yang berhak menerima," tutur Yudo.
Ia menambahkan, Bank Indonesia turut mendorong penguatan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk lewat optimalisasi potensi wakaf. Wakaf panel surya yang dikelola secara produktif diharapkan mendukung kemandirian ekonomi umat dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Yudo pun berharap langkah serupa bisa ditiru dan ditularkan oleh lembaga-lembaga lain.
Wakaf untuk Umat dan Kelestarian Bumi
Dewan Pembina MOSAIC sekaligus Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), M. Ali Yusuf, menilai kolaborasi ini menunjukkan luasnya potensi wakaf. "Lewat kerja sama dengan Bank Indonesia dan berbagai mitra, wakaf kini tidak hanya berdampak pada kemaslahatan umat dan kemakmuran masjid, tapi juga punya peran besar dalam menjaga kelestarian bumi (hablum minal 'alam)," ujarnya.
Ia berharap sinergi ini menginspirasi lebih banyak pihak bahwa menjaga lingkungan dan memperkuat ekonomi umat bisa dilakukan bersamaan melalui wakaf.